KH. Zainuddin MZ - Refleksi Keseimbangan Tujuan Hidup Seorang Muslim

Penawaran Terbatas! Paket Data 25GB Hanya Rp 90.000
Dapatkan kuota besar 25GB untuk semua nomor AS, Loop, dan simPATI hanya dengan Rp 90.000, berlaku selama 30 hari! Internet lancar tanpa khawatir kehabisan kuota, cocok untuk streaming, gaming, dan browsing sepuasnya!
Aktifkan sekarang dan nikmati kebebasan internet!
Read More Beli PaketKH. Zainuddin MZ - Refleksi Keseimbangan Tujuan Hidup Seorang Muslim
ada satu doa pendek
yang diajarkan Allah melalui al quran
kepada kita semua
doa pendek ini merefleksikan tujuan hidup kita
sebagai seorang muslim
sehingga sering kali orang menyebut doa ini
sebagai doa sapu jagat
yaitu
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
wahai tuhan kami
berikan kami kebahagiaan di dunia
kebahagian di akhirat nanti
dan selamatkan kami dari azab neraka
dunia dan seluruh isinya
seusungguhnya merupakan tujuan hidup jangka pendek
dari setiap pribadi muslim
tujuan jangka pendek yang mengantarkan kita
untuk meraih tujuan jangka panjang
yaitu akhirat dan ridho Allah SWT
untuk kedua tujuan ini
islam mengajarkan nilai keseimbangan
bekerjalah buat duniamu seolah kau akan hidup selamanya
tetapi bekerjalah buat akhiratmu seolah kau akan mati besok
nilai keseimbangan ini kemudian diterjemahkan dalam berbagai aspek kehidupannya
dalam berbagai aspek kehidupan
bagaimana si kaya harus membantu yang miskin
bagaimana si miskin harus berusaha
dan hidup tidak menjadi beban bagi yang lain
kelihatan nilai keseimbangan itu
bagaimana si tua menyayangi yang muda
bagaimana yang muda menghormati yang tua
bagaimana tuan rumah menghormati tamu
bagaiman tamu menjadi orang yang tau diri
ini semua merefleksikan adanya nilai keseimbangan
jadi seakan
bung
ini dunia
ambil apa yang perlu
nikmati apa yang boleh
kalau bisa jangan gagal kau di dunia ini
tapi kalau pun kau gagal di dunia
kau kan masih punya akhirat
inilah sumber optimisme kehidupan seorang muslim
dia tidak boleh gagal kalau bisa di dunia ini
tapi kalau pun gagal
kau masih punya akhirat
karena kau punya akhirat
caramu mencapai dunia ini
di warnai oleh keyakinan terhadap adanya akhirat nanti
ini yang menyebabkan seorang muslim berbeda dengan yang lain
dan dia tidak terjebak menghalalkan semua cara
untuk mencapai satu tujuan
keyakinan adanya akhirat
melahirkan etika dalam kehidupan seorang muslim
pada cara bagaimana dia mencapai dunia ini
dia tidak terjebak menghalalkan cara
dunia ini tujuan jangan pendek
ambil apa yang perlu
nikmati apa yang boleh
tapi jangan membuat cacat akhiratmu karenanya
inilah yang membedakan kita dengan yang lain
"iya sih, saya kepingin kaya
tapi kalau korupsi, akhirat saya bagaimana nanti"
"iyalah saya kepingin naik pangkat tinggi jabatan
tapi kalau fitnah orang
hantam kiri sikat kanan
teman jadi lawan lawanpun jadi teman
akhirat saya bagaimana nanti"
ini melahirkan etika pada tata cara mencapai kehidupan dunia
tidak terjebak menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan
karena apa
tidak satu perbuatan dunia yang bagaimanapun kecilnya
yang tidak akan berakibat akhirat
raih duniamu
ambil apa yang perlu
nikmati apa yang boleh
tapi pada sisi lain jaga jangan sampai dia membuat cacat
di akhirat nanti
seorang muslim yang baik tentu yang pandai meraih dua tujuan ini
mencapai
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
sementara rosul pernah mengajarkan
bukan orang yang terbaik dari kamu
orang yang hanya mengejar dunia dengan menyia nyiakan akhiratnya
seperti juga bukan orang yang terbaik
yang mengutamakan akhirat dengan menyia nyiakan dunianya
tapi orang yang terbaik
man jama'a huma
orang yang pandai mengkombin
antara keperluan dunia
dan kepentingan akhirat nanti
untuk mencapai tujuan ini
tujuan dunia
dunia sebagai tujuan jangka pendek bisa dicapai dengan ilmu
dengan science, dengan pengalaman, dengan nasib
makin banyak ilmu makin mudah meraih dunia
makin sarat kita dengan pengalaman makin mudah meraih dunia
atau karena faktor nasib
lalu kita bisa meraih dunia
sementara akhirat hanya bisa diraih dengan prestasi ibadah kepada Allah SWT
prestasi ibadah
jadi, dunia kita capai
dengan prestasi ilmu, prestasi pengalaman atau karena faktor nasib
akhirat kita capai hanya dengan prestasi ibadah kepada Allah SWT
kalaupun ada efek dunianya
dari sholat kita, dari puasa kita, dari haji kita, dari zakat kita
itu sekedar side effect
tapi sasaran utama adalah akhirat dan rido Allah
untuk mencapai dua tujuan ini
Allah memberikan alat
alat untuk mencapai tujuan
dan dalam kaidah ushul fiqh dijelaskan bahwa
lil wasa'il hukmul maqashid
alat dan tujuan hukumnya sama
jadi kalau tujuan kesitu
alatnya harus ada untuk membawa kita ke arah itu
saudara wajib naik ke loteng
tidak bisa naik ke loteng kalau tidak ada tangga
maka tangga itu menjadi wajib adanya
untuk mencapai dua tujuan ini
fid dunya hasanah
wa fil akhirati hasanah
Allah memberikan alat kepada kita
apa alatnya
dalam surat at taubah :111 bis kita lihat
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
Allah telah membeli dari orang orang beriman
diri mereka, harta mereka, bagi mereka adalah surga
ayat ini merupakan transaksi yang sangat transfaran
transaksi yang sangat transfaran
pembeli: Allah
penjual: kita orang orang beriman
dagangannya: amwal dan anfus
harta dan diri
harganya: adalah surga
sekali harta dan diri sudah kita jual kepada Allah
tentu tidak akan kita jual lagi kepada yang lain
jadi dengan kata lain
harta itu apa?
semua bentuk materi yang kita kuasai;
uang, tanah, kebun, pabrik dan sebagainya
lalu yang dimaksud dengan anfus diri itu apa?
semua kekayaan yang ada dalam pribadi kita;
konsep, pikiran, ide, wewenang, jabatan, kemampuan, skill
itu semua anfus
untuk tujuan jangka pendek
harta dan diri harus jadi rahmah bagi lingkungan
untuk tujuan jangka panjang
harta dan diri harus menunjang jalan menuju ridho Allah SWT
itulah jalan kalau kita ingin mencapai
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
dengan kata lain
yang alat itu
jadikan dia sebagai alat
jangan dia dijadikan tujuan
sekali alat kita jadikan tujuan
maka kita akan kehilangan tujuan yang sebenarnya
begitulah sang waktu sering menggeser alat menjadi tujuan
tujuan kita adalah kekuasaan
tujuan kita adalah kekayaan
tujuan kita adalah popularitas
tujuan kita adalah menghimpun segala macam kekuatan
padahal itu cuma sekedar alat
untuk mencapai
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
kalau alat kita jadikan tujuan
kita akan kehilangan tujuan yang sebenarnya
dan akhirnya
kita akan terjerat kepada fatamorgana
kita sangka
itulah tujuan itu
kita sangka kita sudah sampai pada titik yang kita tuju
padahal cuma pandangan yang menipu saja
akhiranya kita terjerat dalam arus siklus
yang berkali kali diperingatkan olel Al Quran
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ
kamu telah celaka
lantaran berlomba lomba menjadikan alat sebagai tujuan
berlomba lomba menjadikan alat sebagai tujuan
karena itu
gunakanlah alat sebagai alat
untuk mencapai tujuan
dan bukan malah alat yang dijadikan tujuan
berapa banyak pun harta kita miliki
dia cuma alat
setinggi apa pun kedudukan yang kita capai
dia cuma alat
sebanyak apa pun ilmu pengetahuan yang kita kuasai
dia cuma sekedar alat
untuk mencapai
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
dengan puasa ramadhan kita harapkan menjadi laboratorium rohani
yang membina nilai nilai keseimbangan
sebab
kalau tidak ada nilai keseimbangan
akan pincanglah gaya kehidupan kita
tidak mustahil kita terjebak pada materialisme
hedonisme, yang pada akhirnya lagi lagi
mengantarkan kita kepada fatamorgana
semoga ibadah puasa makin menyadarkan kita
untuk memperalat yang memang alat
dan menjadikan tujuan yang memang tujuan
untuk mencapai
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً